Ratusan Siswi Ponorogo Hamil di Luar Nikah, Revolusi Seksual?
Iwan Januar, Direktur Siyasah Institute.

Ratusan Siswi Ponorogo Hamil di Luar Nikah, Revolusi Seksual?

Adanya permintaan dispensasi sekolah oleh ratusan siswi SMP-SMA di Ponorogo yang sebagian besarnya karena hamil di luar nikah, menurut Direktur Siyasah Institute Iwan Januar menunjukkan sebagian remaja Indonesia telah mengalami revolusi seksual. “Sebagian remaja Indonesia sudah mengalami suatu revolusi gaya hidup; revolusi seksual,” ujarnya kepada Pamongreaders.com, Senin (16/1/2023) di Bogor, Jawa Barat.

Iwan pun menyebutkan tiga faktor yang mendukung terjadinya revolusi seksual. Pertama, anak-anak muda Indonesia hari ini yang dikenal dengan gen milenium dan gen Z bisa dengan mudah mengakses berbagai konten pornografi di internet.

Kedua, sebagian anak muda kita sudah semakin permisif terhadap perilaku seks bebas karena adanya dukungan atau paling tidak pembiaran dari orang tua mereka dan lingkungan.

Menurutnya, ini menjadikan seks di luar nikah di otak sebagian remaja dan anak muda Indonesia adalah keren, gaul, sampai mereka kesandung kasus hamil di luar nikah, yang laki tak mau tanggung jawab, digugurkan kandungannya, atau lebih buruk lagi dibunuh pacarnya.

Ketiga, revolusi seksual anak muda Indonesia semakin menjadi karena sebagian dari mereka juga tahu bagaimana menghindari kehamilan. “Bukankah kondom dijual bebas di minimarket dan bisa dijual pada siapa saja? Sebagian dari mereka juga tahu apa yang harus dilakukan kalau terlanjur hamil. Sejumlah obat-obat penggugur kandungan dijual online dan siapa saja bisa mengaksesnya,” keluhnya.

Iwan menyatakan ketiga faktor tersebut muncul dan tumbuh subur lantaran bangsa ini, terutama para pengambil kebijakannya, lebih memilih budaya liberalisme dan hedonisme masuk ke dunia anak-anak muda lewat film, musik, bacaan, dan lainnya.

“Kasus ratusan siswi SMP yang hamil di Ponorogo hanya jadi keterkejutan sesaat, setelah itu akan dilupakan lagi, dan revolusi seksual anak muda terus berjalan,” prediksinya bila bangsa ini tidak jua menjadikan Islam kaffah sebagai jalan hidup (way of life).[]

Penulis: Joko Prasetyo