Kalau Jokowi Cawe-Cawe Soal Panji Gumilang dan Al-Zaytun Itu Baru Tepat!
Presiden Jokowi didesak untuk segera cawe-cawe (turun tangan) soal berulangkalinya dugaan penistaan agama yang dilakukan Panji Gumilang dan Ma'had Al-Zaytun yang dipimpinnya, terbaru menyatakan 'Al-Qur'an bukan Kallamullah' dan 'masjid tempat orang putus asa'. / Foto: Sekretariat Presiden

Kalau Jokowi Cawe-Cawe Soal Panji Gumilang dan Al-Zaytun Itu Baru Tepat!

Kalau Presiden Jokowi cawe-cawe (turun tangan) terkait adanya dugaan penistaan agama yang dilakukan Panji Gumilang dan Ma’had Al-Zaytun yang dipimpinnya ---terbaru menyebut ‘Al-Qur’an bukan Kalamullah’ dan ‘masjid tempat orang yang putus asa’--- itu baru tepat.

“Nah, kalau menurut saya, kalau mau cawe-cawe terhadap hal seperti ini, tepat Pak Jokowi!” ujar Direktur Pamong Institute Wahyudi al-Maroky dalam Bincang Bersama Sahabat Wahyu: Al-Zaytun Menista Islam, Pemerintah di Mana? di kanal YouTube Jakarta Qolbu Dakwah, Rabu (21/6/2023).

“Jangan cawe-cawe (intervensi) politik (dukung salah satu bakal calon presiden yang satu dan mendeskreditkan bakal calon presiden yang lainnya), karena itu tidak tepat,” sambungnya.

Jadi, jelas Wahyudi, terkait hal-hal yang bila dibiarkan saja akan mengancam persatuan sebagaimana kasus dugaan penistaan agama ini maka kepala negara memang harus segera turun tangan.

“Justru menurut saya, yang mengancam persatuan itu, justru yang seperti-seperti inilah segera cawe-cawe. Kalau istilahnya Pak Presiden tidak akan netral karena mau cawe-cawe, nah ini kesempatan cawe-cawe yang tepat,” tegas Wahyudi sekali lagi.

Pasalnya, jelas Wahyudi, selain memang soal agama merupakan kewenangan pemerintah pusat dalam hal ini adalah Menteri Agama, Menteri Dalam Negeri dan Menko Polhukam, juga telah terjadi gelombang-gelombang gerakan massa yang mendesak pemerintah bertindak tegas.

Bila dibiarkan, prediksi Wahyudi, akan menimbulkan gesekan yang mengancam persatuan sesama anak bangsa.

“Nah, harusnya pemerintah peka dan tepat (mengambil keputusan), maka kita pertanyakan di mana pemerintah dalam kasus itu? Kok tidak segera mengambil sikap dan kebijakan?” tanyanya.

Harus Segera

Kalau sudah terjadi gesekan fisik, itu sudah mengancam persatuan negeri ini, maka mumpung itu belum terjadi, Wahyudi mendesak, Jokowi harus segera cawe-cawe.

“Agar tidak sampai terjadi pergerakan berikutnya atau tidak terjadi gesekan di tengah-tengah masyarakat. Kalau sampai terjadi tentu mengganggu persatuan kita, mengancam keamanan kita, mengancam kerukunan, mengancam persaudaraan sesama anak bangsa,” jelasnya.

Pasalnya, terang Wahyudi, kalau sudah ada indikasi massa bergerak, itu berarti orang yang awalnya yang berbeda pendapat, hanya berbeda pendapat, dia tidak masalah. “Kalau dia sudah bergerak, itu berarti ada sesuatu yang dilakukan. Artinya, sudah tidak bisa lagi hanya pada level ucapan,” jelasnya.

Karena, jelas Wahyudi, tahapan orang merespons itu, oh dia membuat pernyataan yang aneh, lalu dibalas dengan respons ucapan juga. Dia bikin tulisan yang aneh, dibalas dengan tulisan juga. Nah, ternyata, mereka (Al-Zaytun) sudah melakukan tindakan yang aneh itu, lalu direspons dengan pergerakan, dengan aksi.

Berarti itu sudah meningkat karena sudah ada fisik yang bergerak. Nah, itu bisa terjadi macam-macam. “Jadi, kita harus memberikan gambaran, nasihat kepada pemerintah pusat (untuk) segera merespons karena kalau tidak direspons dengan cepat kita khawatir masyarakat di bawah terjadi gesekan,” pungkasnya.[]

Penulis: Joko Prasetyo