Begini Pengakuan Soekarno tentang Lima Azimat Revolusi Indonesia dan Pancasila
Soekarno (tengah), Presiden Republik Indonesia yang pertama, saat diwawancarai wartawan dari Jerman.

Begini Pengakuan Soekarno tentang Lima Azimat Revolusi Indonesia dan Pancasila

Terkait prinsip dasar politik di Indonesia termasuk rumusan lima azimat revolusi di Indonesia yang salah satunya adalah Pancasila sebagai dasar negara pada 1 Juni 1945, diakui oleh Soekarno (presiden pertama Republik Indonesia) merupakan campuran dari banyak pemikiran pemimpin besar dunia.

"Saya tidak bisa menyebutkan satu, karena pemikiran politik saya adalah campuran dari banyak pemikiran, dari sini, dari sana, dari sana," ujarnya kepada wartawan Jerman dalam wawancara eksklusif disinyalir dilakukan pada September 1965 silam, yang diunggah di kanal YouTube Hendri Teja, bertajuk Wawancara Ekslusif: Dunia Pikiran Seorang Soekarno, Kamis (17/11/2022).

Makanya, dalam tayangan yang telah ditonton tak kurang dari 7.700 kali hingga sebulan lalu, itu Soekarno menyampaikan tentang dunia pikiran di kepalanya yang kala itu dan lantas dari situ pula merumuskan gagasan dan arah kebijakan politik bagi Indonesia.

Seperti diketahui, lima azimat tersebut antara lain Nasakom (1926), Pancasila (1945), Manipol Usdek (1959), Trisakti (1964), dan Berdikari (berdiri di atas kaki sendiri) (1965).

Kisah itu bermula dari bawah terang lampu minyak tanah kecil dan lantas kemudian Soekarno, sebelum menjadi presiden, membaca buku-buku karya para pembesar dunia di antaranya, Karl Heinrich Marx, Vladimir Ilyich Ulyanov atau yang lebih dikenal dengan julukan Lenin.

Tak hanya itu, Soekarno juga mengaku telah 'bertemu' yang berarti membaca, buku karya Rosa Luxembourg, Wilhelm Martin Philipp Christian Ludwig Liebknecht, hingga Friedrich 'Fritz' Sternberg hingga Georgy Valentinovich Plekanov yang seorang revolusioner sekaligus pendiri organisasi marxisme pertama di Rusia yakni Kelompok Emansipasi Buruh, dan dikenal sebagai 'Bapak Marxisme Rusia'.

"Saya bertemu dengan (Giuseppe) Mazzini, saya bertemu dengan (Karl) Marx, saya bertemu dengan Rosa Luxemburg, saya bertemu (Wilhelm) Liebknecth, saya bertemu dengan (William Ewart) Gladstone," kata Soekarno ketika itu.

"Dan saya (juga) membaca sosialis Rusia, saya bertemu, ini yang saya maksud di dunia pikiran, saya bertemu dan saya berbicara dengan (Georgy Valentinovich) Plekanov, saya berbicara dengan Lenin, saya berbicara dengan Sun Yat-sen dari Cina," tegasnya sekali lagi.

Artinya, dari pemikiran mereka semua, seperti yang selanjutnya juga diakui Soekarno, dirinya lantas mendapatkan ide lalu mengolah hingga sampai pada yang namanya lima azimat revolusi Indonesia termasuk di dalamnya Pancasila.

"Dari mereka saya mendapat ide, dan semua ide itu saya masukkan ke dalam great jack, dan saya menggulung ide-ide itu, lalu saya sampai pada kebijakan saya sendiri, Pancasila, dan kemudian juga lima azimat revolusi Indonesia," jelasnya.

Berikutnya, menjawab pertanyaan wartawan tentang pandangan terhadap Jerman saat itu, Soekarno pun menyampaikan bahwa negara dimaksud berbeda dengan Jerman sebelumnya.

"Saya tahu Jerman. Terutama di masa-masa awal gerakan sosialis. Itu mengapa saya mengatakannya (telah membaca seperti yang ia ungkapkan sebelumnya)," tandasnya.

Maknanya, ia telah mengetahui pembesar Rosa Luxembourg, yang merupakan teoretikus Marxis, filsuf, ekonom, aktivis antiperang, dan sosialis revolusioner yang menjadi warga negara naturalisasi Jerman pada usia 28 tahun.

Begitu pula dengan Ferdinand August Bebel, seorang tokoh dalam gerakan buruh Jerman dan revolusioner Marxis.

Untuk diketahui, Bebel termasuk pendiri Partai Demokrasi Sosial Jerman bersama Wilhelm Liebknecht pada tahun 1869. "Saya mengikuti Bebel," pungkasnya, sembari menambahkan semua nama yang ia sebut sebelumnya adalah para pemimpin besar dunia.[] 

Penulis: Zainul Krian

Editor: Joko Prasetyo